welcome

Jumat, 14 Juli 2017

Liburan Bareng genk 'SMS'

hay..hay... welcome back.
Kali ini aku mau nulis tentang liburan gila bareng SMS.

Sebenarnya ini bukan liburan pertama kami sih, sekitar tahun 2011 waktu masih zaman penjajahan semasa kuliah, kami juga pernah liburan bareng ke Bontang.
Tapi itu udah lama banget dan dari waktu itu sampai saat ini, baru kali inilah kami bisa Liburan bareng lagi.

Yups... Setelah banyak drama buat ngumpul yang gak berkesudahan, rencana ngumpul di cafe sekedar ngopi-ngopi cantik aja gak pernah terealisasi. Ada yg sibuk inilah, lemburlah, udah ada janjilah, ini itu, penuh drama.
Akhirnya hari selasa kmaren tepatnya tgl. 11/7/2017 terjadilah liburan mendadak kami.

Yaitu aku, nurul, fifin, lisa, fitri dan dinny, 6 dari total genk yang isinya 12 orang, -yaah berkurang formasi karena sisanya sudah masuk ranah 'emak-emak zone'-, pergi bareng ke Balikpapan dengan menggunakan honda jazz Nurul.
Peningkatan! Kalo tahun 2011 kami ke Bontang dengan bus reyot tanpa AC, tahun ini kami sudah bisa bawa transportasi pribadi, jadi memudahkan kalo mau kemana-mana.

Jam 9 pagi kami sudah lengkap berkumpul di rumah nurul, setelah berpamitan dengan ibu, kamipun cuss berangkat menuju Balikpapan.
Perjalanan berjalan lancar jaya, alhamdulillah.
Dan Tepat pukul 12.00 kamipun tiba di Balikpapan dan segera menuju destinasi pertama kami, yaitu BIC (Balikpapan Islamic Center), selain untuk melaksanakan sholat zuhur (walau liburan bareng dan diantara geng kami ada yang non-muslim, sholat tetap prioritas kami), bentuk arsitektur dari mesjid ini juga unik, terdapat aksesoris payung seperti di mekkah. Dan tempat ini tidak luput dari bagian dokumentasi perjalanan kami...


Sekitar pukul 1 siang, kamipun segera menuju hotel untuk check in. Kami penginap di hotel aston dan menyewa executive room untuk kami ber-6. Harga yang kami dapat karena pesan di traveloka + dapat voucher diskon, untuk jenis kamar yang terdiri dari 2 kamar tidur, 1 dapur, 1 ruang tamu, 2 kamar mandi, dan di sertai balcon, kami hanya membayar 800rb dari 1,2jt permalamnya. Dan ini cukup worth it karena fasilitas dan view hotel yang ciamik banget. Ada swimming poolnya, turun ke bawah langsung berhadapan dengan pantai kemala, dan yang paling penting wifi nya kenceng. 👍

Setelah beristirahat sebentar, pukul 3 siang kami kembali jalan-jalan dengan tujuan hutan mangrove.
Setelah berkeliling-keliling yang berpatokan dengan GPS, akhirnya kami...
Nyasar! Hahahah...
Entah GPS yang gak akurat, atau internet yang hilang timbul, kami malah nyasar ke daerah pasar dan bolak balik disitu-situ aja. Konyol.

Dan kami putuskan untuk pergi ke transmart studio saja, cuman untuk sekedar ingin tau tanpa berniat menaiki wahana-wahana yg ada disana.



Destinasi kami selanjutnya adalah woodclub cafe yang sedang hits di Balikpapan, letaknya pun berdekatan dengan transmart studio, sambil menunggu cafe tersebut buka (bukanya jam 4 sore), kami hanya mengelilingi transmart sambil poto-poto gaya anak alay kekinian. 😎

Selesai sholat ashar, kamipun segera menuju woodclub cafe. Masuk ke cafe tersebut suasananya so classy banget. Interiornya yang warm dan sebagian besar terdiri dari kayu-kayu dan pohon-pohon, cafe ini mungkin mengambil tema 'alam'.




Tapi untuk makanan yang disediakan, aku gak terlalu suka karena emang gak pas di lidahku sih. Karena aku lapar, pesanlah aku sepiring nasi goreng dan segelas smooties, dan jujur rasanya... Hambar.

Sore menjelang, kami memutuskan kembali ke hotel dan menikmati sunset di pantai kemala yang bisa di akses dengan hanya turun ke bagian bawah dari swimming pool hotel.


Setelah mandi dan bebersih, malamnya kami cuss lagi pergi untuk dinner. Aku sama nurul kepingin banget makan di Rumah makan Kepiting khas balikpapan yang katanya enak banget, RM. Dandito.
Dan benar banget, untuk kepiting seharga 250rb sepiringnya, ini kepiting worth it banget!
Daging Kepitingnya tebal, dan telurnya banyak.
Enakkkkk banget!!
Duh aku jadi ngiler lagi...😋



Setelah dari RM. Dandito kami pergi mengunjungi ifa, salah satu anggota geng yang udah jadi emak-emak dan pindah domisili ke Balikpapan. Doi bersuamikan seorang tentara, jadilah kami harus masuk ke wilayah korem untuk menemuinya. -jangan tanya aku nama jalannya, pun aku lupa-😂

Sekitar pukul 11 malam, kamipun kembali ke hotel untuk beristirahat.
Istirahat??
Nyatanya gak, kami malah main UNO sambil gossipan sampai capek. Ahahaha...


Esok harinya..
Sekitar pukul 7.30 pagi, aku sudah di ganggu sama berisikan anak-anak itu yang sok2an mau masak di dapur. Aku yang masih pingin melanjutkan tidur karena suasana balikpapan pada hari itu sedang hujan, malah kena gangguan rekaman2 instastory dari Mereka... 😑

Jam 8 aku benar-benar bangun...
Nurul, lisa dan fitri entah kemana karena yang tersisa hanya fifin dan dinny, katanya sih mereka pingin beli mantou.
Suasana di luar masih gerimis tapi aku kepingin berenang. Akhirnya ku paksa fifin untuk menemaniku berenang. Ahahaha. Bodo amat sama hujan, toh kena sama-sama air juga.



Sekitar 30 menit aku berenang, datanglah nurul, lisa dan fitri, dan mereka pun ikut berenang, lebih tepatnya sih poto-poto doang.

Setelah puas berenang dan poto-poto, akhirnya kamipun bersiap untuk kembali ke Samarinda.
Sebenarnya ingin lebih lama berada di sini, karena 1 hari tidaklah cukup.
Tapi... Karena hari ini aku udah dinas lagi, jadi kamipun terpaksa kembali ke Samarinda.
Pukul 11 tepat, kamipun mengucapkan perpisahan pada kota ini.
Dan kami pasti kembali, bukan untuk menginap, tapi untuk transit menuju bandara, karena liburan selanjutnya kita akan menyebrang pulau!!
I love you guys, kalian ter-bangke!

Tips buat liburan bareng geng:
1. Izin orang tua, kalo ortu udh pada kenal sama temen2 kita, dapat izin pasti gampang.
2. Susun itinerary yang jelas dan tersusun. Jadi saat nyusun itinerary usahakan ke tempat2 hits yang juga searah dan berdekatan, jadi kita gak ngehabisin waktu di jalan karena bolak-balik. Makanya saat nyusun itinerary usahakan juga pake google map biar terarah.
3. Bikin budget. Semua2nya sudah harus di perhitungkan. Dari biaya kamar hotel, bensin, masuk tempat wisata, makan, dll. Langsung di bagi rata, jadi adil.
4. Udah memahami karakter masing-masing teman. Ini paling penting, biar pada gak berantem karena sakit hati atau apalah.
5. Yahh intinya liburan kan have fun, jadi buatlah suasana liburannya nyaman dan menyenangkan yaa guys.

Rabu, 05 Juli 2017

Mudik Samarinda - Banjarmasin yang Penuh Drama

Hai!
Mumpung masih suasana lebaran, adinda mw mengucapakan minal aidin wal fadizin, mohon maaf lahir dan batin yaa buat semua...

Kali ini mau nulis tentang pengalaman ku mudik ke Banjarmasin. Setelah sekian lama gak mudik, akhirnya nyuri-nyuri waktu libur di sela-sela dinas. Hmm...
Bermodalkan habis dinas pagi-libur 3 hari-lanjut dinas malam, di hari raya ke-2, akupun nekat buat nyusul mama-bapak buat mudik ke Banjar. Yups. Keluargaku sudah lebih dulu pergi mudik dari 1 minggu sebelum lebaran.

Jadi...
Tgl. 26 juni, tepatnya hari raya idul fitri kedua, aku saat itu masih dinas pagi, yang harusnya pulang pukul 14.30 pun terpaksa izin pulang jam 12.00 karena mengejar pesawat yang jadwal penerbangannya pukul 18.00.
Dari Samarinda menuju balikpapan aku menggunakan travel kanguru, dengan biaya 150.000 dan memakan waktu sekitar 3 jam. (Terima kasih ku ucapkan kepada kesayangan akoh, Fifin Naima yang udah sudi aku repotin minta antar ke kanguru dan nungguin sampe aku berangkat. Lope you full beb. 😊)


Sekitar pukul 15.30, akupun tiba di bandara sepinggan lalu segera masuk untuk mengantri bagasi. Sebenarnya bawaanku tidak banyak, hanya 1 buah ransel berisi baju dan....
Dipenser. Yups... Si emak bela-belain nyuruh aku beliin dispenser dari samarinda buat nenek. Yakali di Banjar gak ada yang jual dispenser. 😑😑 dan dispenser inilah yang ku bagasikan di bagian OGG.


Setelah itu aku langsung masuk untuk check in. Menunggu sekitar 1.5jam, akhirnya pukul 17.30 kami di persilahkan untuk memasuki pesawat.
Pesawat yang kutumpang saat itu adalah wings air. Dengan tiket seharga +- 600rb ((kalo hari biasa tiket BPP-BDJ sekitar 300rb-400rb aja)), aku bisa berangkat menuju kampung halaman mama dan ketemu nenek serta para sepupu disana.


Pukul 19.00 akupun tiba di Bandara Syamsudin Noor. Cukup terkejut sebenarnya melihat kondisi Bandara ini, keadaannya sedikit kumuh, sempit dan kotor, jauh sekali berbeda dengan bendara sepinggan.

Keluar dari Bandara, sudah ada orangtuaku datang menjemput. Dan kamipun pergi menuju rumah nenek...
Jarak dari bandara ke rumah nenek lumayan jauh. Sekitar 1 jam perjalanan. Karena bandara terletak di BanjarBaru dan rumah nenek terletak di Banjarmasin.

Setibanya di rumah nenek, akupun menggunakan kesempatan itu untuk beristirahat, karena besok adalah jadwal keliling-keliling cari jodoh... eh salah... Keliling-keliling cari amplop... Eh salah lagi... Keliling-keliling silaturrahmi maksudnya... 😆😆

Tgl. 27, aku sudah bangun sejak shubuh. Sarapan soto banjar bikinan mama, lalu bersiap-siap untuk silaturrahmi.
Di sela-sela bersilaturahmi kerumah keluarga kami juga mengunjungi beberapa tempat wisata yang sedang hits di Banjarmasin.
Yaitu Danau Galuh Cempaka dan Danau Seran.



Ini adalah beberapa potoku saat berada di sana.

Yah cukup menariklah untuk sejenis wisata alam anak mudanya Banjarmasin.

Tgl. 28, hari ini waktunya aku pulang. Singkat banget emang perjalananku di Banjarmasin 😢.
Pagi pukul 6, kami sudah berpamitan dengan keluarga dan nenek tercinta. Lalu kamipun beranjak pergi. Rumah nenek ku berada di sei. Mesa, masuk kawasan perkotaan karena letaknya tepat berada di seberang masjid sabilal muhtadin.
Begitu keluar gang, sudah ada taman siring di depan jalan.


Dan di deretan taman siring ini, akan kita jumpai pasar terapung yang beroperasi setiap hari minggu. Sayang sekali aku disana bukan saat hari minggu.

Agak kesana dari lokasi terapung, akan kita jumpai juga taman bekantan, yang menjadi ikonik kota banjarmasin. Dan aku memaksa bapak untuk berhenti dulu di taman tersebut untuk sekedar mengabadikan poto disana.😆😆


Perjalanan pun di lanjutkan.
Dari Banjarmasin kami kembali melewati BanjarBaru. Lalu tiba di kota martapura, aku menyempatkan untuk mencari oleh2 di kota martapura. Kota ini di kenal sebagai kota intan, tapi untuk membeli intan sebagai oleh2 sepertinya dompet ku tidak sanggup. Ahaha.

Akupun hanya membeli beberapa gelang permata imitasi, kalung dari batu, tas, dan dompet dari manik-manik.
Dari Martapura kami melanjutkan perjalanan.
Melewati rantau, di rantau kami kembali bersilaturahmi ke tempat keluarga bapak. Lalu kami bebelok ke arah amuntai, tidak melewati kandangan karena mama ingin sekali makan bebek tanpa tulang amuntai yang sangat khas. Tiba di amuntai kamipun singgah di rumah makan banua lima untuk makan siang. Untuk bebek tanpa tulangnya sih lumayan menurutku, tapi terlalu mahal sih. Seporsinya di harga 50rb,padahal daging bebeknya tidak terlalu banyak. Hmm...


Dari amuntai, kamipun melanjutkan perjalanan dan tiba di tanjung, tabalong pukul 4 sore.
Sebenarnya waktu tempuh dari Banjarmasin-Tanjung hanya berkisar 5-6 jam, tapi karena perjalanan kami kali ini santai di sertai dengan silaturrahmi dan kebanyakan stop, jadilah kami menepuhnya dalam waktu 9 jam. 😁

Di Tanjung, kami menginap selama 2 hari. Tanjung adalah tempat mama dan bapak tumbuh, banyak keluarga dan teman2 yang mau mereka kunjungi.
Kami menginap di tempat kai husein, saudara bapak. Rumahnya karena berada di wilayah Baganja, yang sebagian besar pekerjaan masyarakatnya adalah mekhatam/bertani dan berkebun, tempat ini pun sangat sejuk dan dingin sekali di malam hari.

Esok paginya, kami di ajak mama untuk ke pasar Tanjung. Rumah dimana tempat mama tinggal dulu, tepat berada di bawah jembatan gantung. Termasuk rumah paling besar di masanya. Keluarga mama dari pihak kai memang berprofesi sebagai pedagang, dan juga sangat sukses di masanya. Hingga kini sih. Tapi rumah tersebut sudah di wariskan kepada sepupu mama yang saat itu tidak berada di tanjung.
Kusempatkan untuk mengambil beberapa poto di jembatan gantung Tanjung.


Malamnya kami menginap di murum pudak, adalah komplek pertamina tempat di mana tante/acil/mama yani tinggal. Yang kusuka dari rumah mama yani ini adalah, sangat2 bersih dan gak mungkin kesusahan air.

Tgl. 30, pagi pukul 06.00 setelah subuh, kamipun mulai beranjak pergi menuju Samarinda.
Di sambut oleh kabut pagi dan wilayah perumahan pertamina yang sangat asri, aku merasa sangat tentram. Ceilah...

Setelah melewati bundaran Api Tanjung, kami pun berangkat melewati Jaro. Kami singgah sebentar bersilaturahmi di tempat nenek Aluh yang tinggal di Jaro. Suami nenek Aluh berprofesi sebagai mantri/perawat, karena tempat ini masih jarang ada dokter praktek, maka rumah nenek Jaro pun sering kali ramai oleh pasien yang ingin berobat.

Dari Jaro kamipun melanjutkan perjalanan, melewati muara Uya lurus hingga tiba di perbatasan KalSel-KalTim, perjalanan dari Tanjung hingga tiba ke perbatasan cukup bagus. Jalanan licin dan mulus, namun begitu masuk ke wilayah kaltim, jalan rusak pun hampir sering kami temui. Hmm... Mungkin pemerintah perlu sekali memperhatikan wilayah perbatasan ini.
Lalu, dari perbatasan kira2 1 jam kemudian, kamipun tiba di Batu Kajang/Batu Sopang, dulu sekali, sekitar kelas 2-4 SD, aku pernah tinggal di daerah ini. Ku kenang saat aku memasuki hutan untuk mencari bambu pramuka dan melewati daerah pendulangan, ah... Ku rindu masa-masa itu.

Dari Batu Sopang, melewati belokan ke arah tanah grogot, kamipun lurus menuju koaro dan tiba di penajam sekitar pukul 12 siang, tepat saat orang akan melakukan sholat Jumat. Kamipun singgah di Masjid Agung Penajam. Masjid ini sangat luas walaupun tidak seluas islamic Center Samarinda, terdiri dari mungkin 3 lantai, lantai untuk jamaah perempuan ada di lantai 3.

Setelah bapak dan auli selesai sholat, kamipun menggelar koran untuk makan siang. Berbekal nasi dari rumah mama yani, kamipun duduk di bawah pohon, di parkiran masjid agung Penajam ini. Serasa camping... 😂


Selesai makan, kamipun segera melanjutkan perjalanan menuju ferry, dan...
Tiba-tiba bapak menadapat telpon.
Dari om Jumri.
Yang mengajak bapak untuk berlibur 1 hari di Balikpapan.
Karena ada keluarga dari Pangkalanbun yang datang ke Samarinda.
Bapakpun mengiyakan.
Lupa kalo aku, anaknya, malam ini sudah masuk kerja untuk dinas malam. 😑😑😑

Dengan membayar tiket ferry seharga Rp. 269.900,- kamipun menyebrang ke Balikpapan. Memakan waktu sekitar 30 menit, tepat pukul 15.30 kamipun tiba di Balikpapan.
Karena mereka masih mau liburan di Balikpapan, akupun terpaksa pulang ke Samarinda dengan Menggunakan bus.

Bapak mengantarku ke terminal Batu Ampar, dan saat itu semua bus masih terlihat kosong. Berjalan ke depan sedikit, di daerah pangkalan ojek, ada bus arah Samarinda yang sedang ngetem menunggu penumpang agar busnya penuh.
Walau bus tanpa Ac, akhirnya akupun terpaksa menaikinya.

Sekitar 15 menit kemudian, bus pun berangkat. Di dalam bus aku di tagih bayaran bus seharga 30rb.
Sekitar pukul 19.00 akupun tiba di terminal Samarinda. Dan menggunakan angkot menuju rumah. Celakanya...
Di tengah2 perjalanan, saat sedang menaiki gunung, eh... Si angkot mogok dan berjalan mundur. Aku langsung sawan, pucat, pasi. Tanpa alang2, akupun lebih meilih turun demi keamanan jiwa dan raga.😰

Akhirnya akupun lebih memilih order gojek saja.
Pun... Lama sekali ada yg accept orderanku.
Akhirnya setelah menggalau sekitar 15 menitan, adalah abang Gojek baik hati bersedia meng-accept orderanku. Dengan 15rb, akupun sampai di rumah dengan selamat.

Sungguh. Mudik tahun ini penuh warna dan cerita. 😆😆

Rabu, 05 April 2017

Explore Samarinda (part 4), Tamasya Tipis-Tipis

Samarinda memiliki potensi alam yang menarik dan instagrammable yang wajib dikunjungi jika kalian anak Samarinda.

Jelajah Mahakam




Dinas pariwisata saat ini sedang giat-giatnya mempopulerkankan wisata bahari mengelilingi sungai mahakam dengan memanfaatkan kapal masyarakat yang disulap dengan nama kapal Jelajah.
Memiliki rute yang dimulai dari pelabuhan menuju jembatan Mahkota 2 lalu berputar menuju jembatan Mahakam, jelajah Mahakam ini menghabiskan waktu sekitar 2,5-3 jam lamanya.
Biaya yang dibutuhkan untuk wisata Jelajah Mahakam ini:
  • Jika hanya 1 rute dari pelabuhan menuju Jembatan Mahkota 2, biaya yang di butuhkan adalah 25 ribu
  • Jika 2 rute menuju Jembatan Mahkota dan Jembatan Mahakam akan dikenakan biaya 50 ribu.
Jika kalian melakukan perjalanan ini saat weekend, kapal jelajah ini akan singgah ke kampung tenun Samarinda Seberang. Selain dapat berbelanja kain tenun, kalian juga dapat menyaksikan proses pembuatan tenun disana secara langsung.




Aku sendiri dulu sebelum ada kapal jelajah pernah melakukan perjalanan wisata bahari ini dengan menyewa kapal kelotok di pelabuhan bersama teman-teman kuliah, dengan membayar 250rb kapal ini mampu mengangkut sekitar 30 orang dan kamipun di ajak berkeliling sungai mahakam.




Air Terjun Tanah Merah
Terletak di Dusun Purwosari, Desa Tanah Merah kecamatan Samarinda Utara atau sekitar 14 Km dari pusat Kota Samarinda.


Air Terjun yang hanya memiliki ketinggian sekitar 15 meter ini, mengalirkan air yang merayap di batuan besar kemudian jatuh menciptakan kolam yang lebar di bawahnya.
Meski hanya diatas lahan seluas 6 hektar, Taman Wisata Air Terjun ini sudah dilengkapi beberapa bangunan seperti Musholla, kolam renang anak-anak, area bermain dan gedung untuk pertunjukan.
Jika kita ingin merasakan suasana tenang, asri dan sejuk inilah tempat yang pas.

Telaga Permai Batu Besaung
Merupakan obyek wisata alam yang terletak di daerah Sempaja ujung. Jalan menuju Telaga Permai ini sangat menyegarkan, di kelilingi oleh sawah-sawah warga dan hutan yang masih rimbun.


Akses menuju telaga ini, Jika membawa motor atau mobil, harus di parkirkan terlebih dahulu di gerbang masuk, lalu berjalan kaki menuju air terjun berada.

Kawasan ini memiliki sejumlah air terjun dengan ketinggian yang rendah. Dari semua air terjun tersebut, terdapat telaga di bawah aliran airnya.


Air Terjun Pinang Seribu
Merupakan wisata alam yang terletak di kelurahan Sempaja Utara. Tepatnya di jalan padat karya, sekitar 6 km dari simpang bengkuring.


Memiliki bentuk air terjun yang unik, yaitu menyerupai seperti tangga sehingga dapat di panjati (namun tetap harus berhati-hati karena aliran airnya sangat deras).
Disana juga terdapat beberapa jenis permainan, seperti area outbound, sepeda air dan jembatan gantung. Terdapat juga tempat penginapan berupa villa dan gazebo.


Gunung Batu Putih



Batu Putih adalah kawasan perbukitan batu gamping. Terletak *tepat di belakang rumah* di kawasan Jalan Suryanata. Lokasinya sendiri cukup mudah ditemukan. Ada 2 akses menuju gunung Batu putih ini.


Pertama, Masuk ke dalam Perumahan Graha Indah, lebih kurang 500 meter, terdapat pertigaan jalan berbatu, segera belokkan kendaraan ke arah kanan, terdapat tanjakan, ikuti jalurnya hingga ke atas, melewati lapangan tanah liat dan dua belokan ukuran sedang. Sesampainya di atas, terdapat permukaan datar seluas 400 m2, yang bisa digunakan untuk kegiatan kemah atau sekadar duduk dan menikmati senja dari atas ketinggian.
Atau jalan masuk kedua, yaitu dari komplek Batu Putih. Dari pintu gerbang masuk lurus kira-kira 200m, akan ada tanjakan, tetap ikuti jalur. Kiri kanan akan terlihat warga yang sedang membuat batu bata dari tanah liat. Lalu terus menanjak *sudah ngos-ngosan sih*, hingga sampai ke puncak gunung kita akan di sajikan area dimana kita dapat melihat keseluruhan kota Samarinda dari atas sini.


Bukit Steleng



Bukit ini pernah membuat heboh grup facebook Bubuhan Samarinda, ketika ada salah seorang netizen memposting foto kota Samarinda dari bukit ini. Pasalnya, kita bisa melihat Sungai Mahakam dan sebagian wajah kota Samarinda dari ketinggian ini.


Jika ingin ke sana, bisa dari Jalan Lumba-Lumba, Selili. Menyusuri jalan, hingga kita sampai di gang 2,  masuk jalur ke bukit steleng dan kemudian parkir di halaman sebuah SD. Lalu mulai mendaki ke atas sampai kira-kira 30 menit.
Sesampainya di atas kita akan di sambut dengan ilalang di sepanjang dataran bukit, lalu tampak keindahan sungai mahakam dan pemukiman rumah warga di bawahnya.

Gunung RCTI



Bukit ini dikenal dengan nama Bukit Palaran RCTI. Kenapa? Karena disitu ada pemancar/ transmisi stasiun televisi RCTI. Terletak di Jl. Dwikora, Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang.


Bukit ini tidak terlalu tinggi namun cukup bagus untuk melihat Sungai Mahakam dari ketinggian. Akses jalannya pun mudah tidak jauh dari keramaian.
Apabila kita dari tengah kota, kita bisa melalui jembatan Mahakam kemudian belok kiri mengikuti jalan ke arah Mangkupalas. Carilah terminal atau kumpulan angkot berwarna kuning. Ada jalan setapak untuk bisa naik sampai di atas.

Bukit Tanjung/ Bukit Teletubies



Ini adalah nama bukit yang baru-baru ini mulai tenar. Letaknya di Lempake menuju ke Waduk Benanga. Memiliki daya tarik lanskap bukit hijau yang menyediakan pesona sunrise ataupun sunset yang bisa dinikmati di tempat ini.
Trekking-nya untuk bisa ke atas bisa dikatakan mudah, berada di area persawahaan tidak jauh dari SMP 13 Lempake.

Danau Cermin



Berlokasi di Loa Bakung, Letak Danau Cermin ini dibilang cukup strategis karena masih masuk dalam wilayah kota Samarinda.
Entah kenapa namanya bisa jadi begitu. Mungkin nyontek dari Danau Labuan Cermin yang ada di Biduk-biduk dan memiliki warna serupa.
Danau ini merupakan area bekas galian tambang yang terbentuk secara alami akibat genangan air hujan. Entah bagaimana, air yang terbentukpun berwarna biru bening dan dikelilingi pohon-pohon dan tanaman liar disekitarnya.


Area ini menjadi hits karena sebagian besar dikunjungi anak medsos yang mengabadikan pemandangan disini melalui instagram, path dan sebagainya.

Sabtu, 01 April 2017

Explore Samarinda (part 3), Mengejar Sunrise di Puncak Samarinda

Hay... Hay...
Akhirnya rilis juga tulisan tentang ini.
Setelah nulisnya tertatih-tatih, nyuri-nyuri waktu disela dinas sampe bingung mau di tulis apa lagi..😁

Jadi, sekitar pertengahan bulan februari kemaren, dimana pikiran udah mulai suntuk, emosi mulai labil dan yang paling penting karena instagram sudah mulai berdebu.
Muncul lah hasrat buat nyari bahan buat diupload di instagram. Wkwkwkw...
Dan untungnya, temen-temen di ruangan juga sepikiran dan se-visi buat hunting poto yang ciamik beda dari biasanya.

Nah kebetulan dibusam (fyi, busam itu adalah grup bubuhan samarinda yang beroperasi di facebook dimana hampir seluruh masyarakat Samarinda bergabung disini untuk berbagi informasi atau sekedar membuka lapak untuk berjualan), sedang naik daun wisata alam ke puncak Samarinda. Dimana dari poto-poto yang di upload berupa pemandangan di ketinggian Samarinda, goa Samarinda dan air terjun yang letaknya di ujung sempaja Samarinda.

Dan Inisiatif dari Gina (Fyi, Gina nama asli Regina, adalah teman kuliah yang sekarang jadi teman sekantor dan teman seperjuangan untuk mendapatkan status pns saat ini), kami pun menyewa jasa tour guide untuk membawa kami menikmati puncak Samarinda tersebut,
Dengan biaya 70ribu per orang, kami sudah mendapat fasilitas antar jemput Pulang pergi dengan menggunakan mini jeep katana, gratis naik ke rumah panggung puncak Samarinda, dan jasa Potografer dari sang guide. 👍👍

Setelah mengatur jadwal dinas sedemikian hingga, tibalah hari dimana kami akan memulai 1 hari trip menuju negeri di atas awan tersebut. Ceilah...
Untuk mengejar sunrise, maka kami akan mulai perjalanan pukul 4 subuh.
Karena rumahku yang paling dekat, maka rumahku pun di jadikan basecamp bermalam sebelum kami pergi kesana.
Terdiri dari Regina, ka Mumuy dan ka Motik, kami berempat berdesak-desakan tidur di kamarku yang sempit. *maaf ya gaes fasilitasnya kurang memuaskan 😅*

Pukul 4.30 sang guide pun datang menjemput, alhamdulillah kami juga saat itu sudah siap untuk berangkat (kan biasa cewek-cewek agak rempong tuh kalo mau kemana-kemana, untung kali ini temanya natural jadi gak pake-pake dandan. Wkwwkkw 😆)

Menembus kota Samarinda masih subuh buta, jalanan pun terlihat lenggang, biasanya macet dengan hiruk pikuk klakson dan beberapa kendaraan tanpa tata krama yang mewarnai jalan raya, suasana Samarinda saat itu terasa sangat sejuk dan menenangkan.

Puncak Samarinda
Menuju ke arah Sempaja ujung dengan lika-liku jalanan berlubang yang udah kayak wisata Ofroad, akhirnya tepat pukul 05.30 kami tiba di wilayah berambai, tempat dimana puncak Samarinda berada.

Setelah selesai sholat Shubuh, kamipun segera menikmati pemandangan puncak Samarinda dan tidak lupa mengambil beberapa foto dengan latar keindahan puncak Samarinda tersebut.

Berada di ketinggian sekitar 250mdpl, jauh sih kalo di bandingkan sama puncak mt. andong yang ketinggiannya lebih dari 1700mdpl kemaren, tapi pemandangan yang tersajikan disini gak kalah indah dengan puncak Mt. Andong.


Pendar cahaya kuning mulai tampak di ufuk barat, membelah langit yang masih tampak gelap, di tambah dengan sisa-sisa kabut dan embun yang mulai terangkat dari hutan di bawahnya membentuk gumpalan pekat seperti awan, menambah keindahan pemandangan saat itu. Wajarlah tempat ini dinamakan Negeri di atas awan. Karena kita seperti berada di tengah-tengah, antara awan di langit dan awan dari gumpalan embun hutan berambai.



Goa Kelelawar
Setelah puas menikmati pemandangan dan mengambil banyak poto, kamipun beralih spot ke area goa kelelawar.



Goa ini hanya memiliki kedalaman sekitar 30 meter, tapi letaknya yang berada di ujung kota Samarinda membuat gua ini belum banyak terjamah tangan manusia, masih asri dan sedikit berbau karena adanya kotoran kelelawar di dalamnya.

Air Terjun Berambai
Tidak berlama-lama di goa kelelawar karena takut mengganggu habitat kelelawar didalamnya, kamipun segera menuju spot selanjutnya.
Yaitu air terjun Berambai.
Air terjun ini terdiri dari 3 tingkatan, tingkatan pertama merupakan air terjun pertama yang kami temui dan berupa air terjun dangkal. Lalu agak turun ke bawah melewati hutan, kami tiba di tingkatan kedua. Air terjun ini hanya setinggi kira-kira 3 meter dengan kedalaman sekitar 1-2 meter. Lalu air terjun ketiga, akses ke tingkatan ke tiga agak sedikit susah dan masuk kedalam hutan, aku pernah masuk sekali kesana sewaktu acara tafakur alam dengan teman-teman ngaji dulu. Ujung dari air terjun ini adalah sebuah goa lagi.


Perjalanan kami kali ini hanya sampai di tingkatan kedua. Karena tidak membawa baju ganti kami tidak berniat untuk berenang, kami hanya sekedar menikmati pemandangan dan mengambil beberapa poto.

Rumah kapal

Setelah dari air terjun, waktu sudah menunjukan pukul 9.30, sudah saatnya kami pulang.
Dalam perjalanan pulang, kami melewati sebuah rumah menyerupai kapal yang berada di atas kolam yang luas.
Rumah kapal ini dulunya adalah rumah seorang penghulu kaya raya bernama H. Said, beliau adalah penghulu yang termasuk kategori berani karena sering di pakai oleh anggota-anggota dewan untuk menikah siri atau pernikahan beda agama sekalipun.
Konon katanya beliau membangun rumah kapal ini untuk istri ketujuhnya. Tapi seiring berlalunya waktu, rumah ini ditinggalkan begitu saja tanpa terurus, mungkin karena letaknya yang jauh dari kota dan dulu belum banyak perkampungan di sekitar sini.


Hingga saat ini, rumah kapal ini hanya menjadi sebuah objek wisata yang tak terurus dan sudah mulai rusak dan bolong di beberapa bagian. Seakan-akan menunjukkan bahwa kapal tersebut telah terdampar dan tidak dapat melanjutkan perjalanan lagi.

Yups, itu dia cerita tentang pengalamanku meng-eksplore Samarinda edisi Negeri Diatas awan. Semoga bermanfaat.
Liburan gak melulu mesti ke mall atau ke cafe, atau ke luar kota dengan biaya yang gak sedikit.
Samarinda juga punya banyak potensi alam yang bisa dimanfaatkan untuk refreshing bahkan ngisi feed-feed instagram, yang tentunya dengan biaya yang minim. 😁

Ayo liburan dengan alam!!